Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Articles

  1. OPTIMIZING HOSPITAL MANAGEMENT SYSTEM THROUGH THE KANBAN METHOD: A REVIEW OF CURRENT EVIDENCES

    Background – Hospitals, as essential providers of healthcare services, face significant challenges in managing diverse inventories, including pharmaceuticals, medical equipment, and daily operational supplies. Inefficient inventory management often leads to increased costs and resource wastage, underscoring the need for systematic approaches to enhance efficiency.

    Objectives – This study aimed to review the literature on the application of the Kanban method in hospital inventory management and to evaluate its potential benefits in cost reduction and waste minimization.

    Methods – A literature review was conducted using a replicable protocol to identify relevant peer-reviewed articles indexed in Google Scholar. The search was restricted to publications in English and Indonesian from January 2020 to January 2025. Boolean search strategies were employed with keywords including Kanban Method, hospital inventory management, cost reduction, and efficiency. Eligible articles were thematically analyzed to synthesize the findings.

    Results – The review highlights that the Kanban method, originally developed for manufacturing industries, can be effectively adapted to hospital settings. Its implementation demonstrates potential to optimize resource utilization, reduce operational costs, and alleviate waste production. However, challenges remain, particularly cultural resistance among healthcare staff and the need for systematic planning and organizational commitment to ensure successful adoption.

    Conclusion – The Kanban method offers a viable and effective approach for improving hospital inventory management. This findings offer practical insights for hospital administrators and policymakers seeking cost-effective and sustainable inventory management strategies, while also identifying gaps for future empirical research.

  2. STUDI KAJIAN IN VITRO SEL MCF-7: POTENSI BIOAKTIVITAS MULTITARGET SULFORAFAN SEBAGAI FITOKIMIA TERHADAP KARSINOGENESIS KANKER PAYUDARA SUBTIPE LUMINAL A

    Latar Belakang – Kanker payudara menjadi penyumbang utama angka mortalitas kanker pada wanita. Kanker payudara subtipe luminal A merupakan subtipe yang paling sering ditemukan dibanding subtipe lainnya. Kanker payudara subtipe luminal A berkaitan erat dengan sel lini MCF-7 yang merupakan sel dengan reseptor berupa estrogen, progesteron, dan glukokortikoid. Dalam literature review ini, akan dipaparkan mengenai regulasi jalur persinyalan SFN sebagai penghambat proliferasi sel MCF-7.

    Tujuan – Studi ini bertujuan untuk mengkaji dan mensintesis bukti ilmiah mengenai peran sulforafan dalam meregulasi jalur persinyalan molekuler sebagai penghambat proliferasi sel kanker payudara subtipe luminal A, khususnya pada sel lini MCF-7, serta mengevaluasi potensinya sebagai kandidat terapi adjuvan kanker payudara.

    Metode– Penulisan dilakukan dengan metode studi literatur menggunakan referensi yang memiliki korelasi dengan topik bahasan ini.

    Hasil – Senyawa sulforafan dapat menurunkan tingkat proliferasi sel MCF-7 melalui 3 jalur utama, yaitu cell cycle arrest, cell death (apoptosis), dan stres oksidatif.

    Kesimpulan – Tinjauan literatur ini menyajikan sintesis komprehensif mengenai regulasi jalur persinyalan sulforafan sebagai penghambat proliferasi sel MCF-7 pada kanker payudara subtipe luminal A. Temuan ini menegaskan potensi sulforafan sebagai kandidat terapi adjuvan pada kanker payudara subtipe luminal A serta menyoroti pentingnya penelitian lanjutan, khususnya studi translasi dan uji in vivo pada manusia melalui pendekatan kombinasi terapi dan enkapsulasi untuk meningkatkan bioavailabilitas dan efektivitas klinis.

  3. Exploring the History of Pre-Travel Health Consultation Regarding Dengue Fever Management Among Foreign Tourist Patients at Primary Clinic in Bali, Indonesia

    Background – Knowledge of dengue fever management is highly beneficial for travelers, including foreign tourists. Tourists with good knowledge of dengue fever are expected to be able to maintain their health during travel. The implementation of a Pre-Travel Health Consultation program is one of the efforts that can be undertaken to improve traveler’s knowledge and to prepare them for safe and healthy travel.

    Objectives –This study aimed to exploring the history of pre-travel health consultation regarding the dengue fever management among foreign tourist patients at Primary Clinic.

    Methods – This study employed a cross-sectional design with a sample size of 69 respondents selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. The research instrument used was a questionnaire. Data were analyzed using the univariate analysis to determine the history of pre-travel health consultation regarding the dengue fever management.

    Results – The results showed that the majority of patients, 42 (60.9%), had previously participated in pre-travel health consultation, and 46 (66.7%) patients had a good level of knowledge regarding dengue fever management.

    Conclusion – This study is expected to serve as a reference for educational purposes in developing evidence-based nursing, particularly regarding pre-travel health consultation and the level of knowledge of dengue fever management among foreign tourists.

    Keywords: Dengue Fever Management Knowledge, Pre-Travel Health Consultation, Foreign Tourists

  4. STIMULASI OTAK NON-INVASIF PADA PENYAKIT ALZHEIMER: TINJAUAN KOMPREHENSIF EFEKTIVITAS RTMS, TDCS, DAN TACS

    Latar Belakang: Penurunan fungsi kognitif pada penyakit Alzheimer masih menjadi tantangan klinis karena keterbatasan efektivitas terapi yang tersedia saat ini. Stimulasi otak non-invasif (Non-Invasive Brain Stimulation/NIBS) berkembang sebagai pendekatan terapeutik inovatif yang berpotensi meningkatkan fungsi kognitif melalui modulasi aktivitas neuronal dan neuroplastisitas.

    Tujuan – Intervensi yang tersedia saat ini menunjukkan efektivitas yang terbatas dalam membalikkan penurunan kognitif. Stimulasi otak non-invasif telah muncul sebagai strategi terapeutik yang menjanjikan untuk peningkatan fungsi kognitif. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mensintesis bukti mengenai efektivitas repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS), transcranial direct current stimulation (tDCS), dan transcranial alternating current stimulation (tACS) dalam meningkatkan fungsi kognitif pada pasien Alzheimer.

    Metode –Tinjauan naratif ini dilakukan menggunakan basis data PubMed, Google Scholar, Scopus, Embase, dan ClinicalTrial.gov pada periode 2015–2025. Dari 95 artikel yang ditelaah, sebanyak 47 artikel dipilih sebagai referensi.

    Hasil – Modalitas NIBS bekerja melalui modulasi aktivitas neuronal, peningkatan neuroplastisitas, serta perbaikan konektivitas dalam jaringan kognitif. rTMS menunjukkan perbaikan kognitif yang konsisten, terutama stimulasi frekuensi tinggi (≥10 Hz) pada korteks prefrontal dorsolateral yang terbukti meningkatkan fungsi kognitif. tDCS efektif dalam meningkatkan kognisi global dan memori, khususnya dengan stimulasi anodal pada area temporal. tACS dengan frekuensi gamma (40 Hz) meningkatkan sinkronisasi osilasi neuronal dan fungsi memori. Analisis meta menunjukkan adanya peningkatan kognitif yang signifikan setelah intervensi, dengan potensi pencegahan penurunan kognitif jangka panjang melalui penggunaan berulang. Namun, efektivitasnya bervariasi akibat heterogenitas protokol, perbedaan durasi terapi, serta keterbatasan uji klinis skala besar dengan tindak lanjut jangka panjang.

    Kesimpulan – Seluruh terapi modalitas menunjukkan profil keamanan yang baik dengan efek samping minimal, sehingga aman untuk aplikasi terapeutik berulang. NIBS memiliki prospek klinis yang menjanjikan sebagai terapi adjuvan dalam penatalaksanaan penyakit Alzheimer. Penelitian selanjutnya perlu difokuskan pada standardisasi parameter stimulasi serta integrasi multimodal dengan pelatihan kognitif dan terapi farmakologis guna mencapai efek terapeutik yang optimal dalam perawatan Alzheimer yang bersifat personalisasi.

  5. GAMBARAN KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI PANDEMI COVID-19: STUDI PADA WISATAWAN ASING DI BALI INDONESIA

    Latar Belakang – Peningkatan kesiapsiagaan menjadi hal utama untuk dilakukan dalam menangani COVID-19. Kesiapsiagaan yang tidak optimal dapat berdampak pada meningkatnya prevalensi COVID-19 sehingga meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.

    Tujuan  – Tujuan penelitian ini adalah untuk gambaran kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemi COVID-19 pada wisatawan asing di Bali, Indonesia

    Metode – Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional dengan sampel berjumlah 44 orang yang dipilih melalui teknik Purposive Sampling dengan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah berupa lembar kuesioner kesiapsiagaan. Data dianalisis menggunakan uji statistic deskriptif.

    Hasil – Hasil penelitian mendapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (72,7%), memiliki tingkat pendidikan terakhir tingkat universitas (65,9%), Sebagian besar merupakan entrepreneur atau wiraswasta (68,2%), dan sebagian besar berasal dari USA (13,6%). Nilai rerata kesiapsiagaan adalah 34,68 dengan rentang 32 hingga 39.

    Kesimpulan – Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber atau acuan dalam penyusunan program-program kesehatan yang terkait dengan pelayanan kesehatan guna meningkatkan kesiapsiagaan wisatawan asing terhadap pandemic COVID-19.